Cone high heels pada umumnya didesain dengan top heel lebih kecil, sehingga resiko itu tetap ada. Pilihan untuk meminimalisir resiko adalah pada Banana High Heels atau Round Heels, submodel Cone Heels yang memiliki top heel paling luas bahkan mendekati top heel milik Chunky.
Karena itu banyak konsumen sepatu wanita yang sebenarnya merasa “tertindas” selama bertahun-tahun oleh mindset yang tercipta di dunia fashion bahwa kecantikan identik dengan high heels, dan high heels identik dengan Stiletto. Mindset ini menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar sedikit pun, padahal Stiletto memiliki top heels dengan ketidakstabilan sangat tinggi. Alasannya, agar pemakai terkesan tinggi dan langsing. Ironisnya mindset ini berkembang di kalangan wanita negara-negara Barat yang dikenal memiliki penalaran logis dan rasional.
Lebih ironis, mindset itu diimpor oleh para wanita dari negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Meskipun banyak wanita yang menyadari bahwa kecantikan yang sesungguhnya itu berasal dari dalam atau dalam istilah populernya inner beauty. Tetapi tetap merasa sulit melepaskan diri dari mindset yang kebanyakan pendukungnya terdiri dari para desainer, rumah mode dan produsen sepatu.
Maka setelah cukup lama berkompromi dengan Cone Heels, mindset itu semakin melemah. Apalagi di kalangan konsumen remaja, bukan berarti mereka lebih rasional, tetapi karena lebih suka memilih cara serba instan tapi minim resiko. Di saat itu Chunky menjadi jawaban dan sekaligus alternatif yang paling tepat. Chunky membuat pemakainya menjadi lebih tinggi tanpa resiko, dan agak sensasional.
Di era 1980-an, setelah berjaya selama sepuluh tahun dengan penampilannya yang terbilang konservatif karena masih setia dengan desain mirip sepatu Louis XIV, Chunky terpaksa harus terpinggirkan oleh para kompetitornya. Sampai beberapa lama model Chunky heel jarang ditemukan di pasar sepatu wanita.
Sekitar dua tahun belakangan, setelah absen dan melakukan instrospeksi, model Chunky sedikit demi sedikit mulai hadir dengan penampilan yang berbeda. Nampaknya, dalam kurun waktu tersebut Chunky sedang menjajagi pasar dan memilih aplikasi yang tepat untuk mengulang masa kejayaannya.
Chunky Heels 2015 yang diharapkan menjadi salah satu trend di dunia fashion hadir selain dengan keunggulannya yang tanpa resiko, ditawarkan dalam berbagai style yang bisa dipilih dan langsung dipakai tanpa latihan, memiliki kestabilan yang mantap bahkan jika digunakan oleh para wanita yang bertubuh tambun. Chunky 2015 tampil baru menjadi high heels yang memiliki beragam style dari hasil kreasi yang sangat inovatif.
Revolusi desain Chunky Heels 2015 tidak hanya pada keragaman ukuran tumit, juga meliputi kombinasi bahan, pilihan warna dan style yang kontemporer. Sehingga Chunky Heels 2015 yang ditampilkan dalam fashion show dari Milan hingga New York menjelang akhir tahun 2014 menjadi puncak dari berbagai inovasi yang dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya.
Karena itu banyak konsumen sepatu wanita yang sebenarnya merasa “tertindas” selama bertahun-tahun oleh mindset yang tercipta di dunia fashion bahwa kecantikan identik dengan high heels, dan high heels identik dengan Stiletto. Mindset ini menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar sedikit pun, padahal Stiletto memiliki top heels dengan ketidakstabilan sangat tinggi. Alasannya, agar pemakai terkesan tinggi dan langsing. Ironisnya mindset ini berkembang di kalangan wanita negara-negara Barat yang dikenal memiliki penalaran logis dan rasional.
Lebih ironis, mindset itu diimpor oleh para wanita dari negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Meskipun banyak wanita yang menyadari bahwa kecantikan yang sesungguhnya itu berasal dari dalam atau dalam istilah populernya inner beauty. Tetapi tetap merasa sulit melepaskan diri dari mindset yang kebanyakan pendukungnya terdiri dari para desainer, rumah mode dan produsen sepatu.
Maka setelah cukup lama berkompromi dengan Cone Heels, mindset itu semakin melemah. Apalagi di kalangan konsumen remaja, bukan berarti mereka lebih rasional, tetapi karena lebih suka memilih cara serba instan tapi minim resiko. Di saat itu Chunky menjadi jawaban dan sekaligus alternatif yang paling tepat. Chunky membuat pemakainya menjadi lebih tinggi tanpa resiko, dan agak sensasional.
Di era 1980-an, setelah berjaya selama sepuluh tahun dengan penampilannya yang terbilang konservatif karena masih setia dengan desain mirip sepatu Louis XIV, Chunky terpaksa harus terpinggirkan oleh para kompetitornya. Sampai beberapa lama model Chunky heel jarang ditemukan di pasar sepatu wanita.
Sekitar dua tahun belakangan, setelah absen dan melakukan instrospeksi, model Chunky sedikit demi sedikit mulai hadir dengan penampilan yang berbeda. Nampaknya, dalam kurun waktu tersebut Chunky sedang menjajagi pasar dan memilih aplikasi yang tepat untuk mengulang masa kejayaannya.
Chunky Heels 2015 yang diharapkan menjadi salah satu trend di dunia fashion hadir selain dengan keunggulannya yang tanpa resiko, ditawarkan dalam berbagai style yang bisa dipilih dan langsung dipakai tanpa latihan, memiliki kestabilan yang mantap bahkan jika digunakan oleh para wanita yang bertubuh tambun. Chunky 2015 tampil baru menjadi high heels yang memiliki beragam style dari hasil kreasi yang sangat inovatif.
Revolusi desain Chunky Heels 2015 tidak hanya pada keragaman ukuran tumit, juga meliputi kombinasi bahan, pilihan warna dan style yang kontemporer. Sehingga Chunky Heels 2015 yang ditampilkan dalam fashion show dari Milan hingga New York menjelang akhir tahun 2014 menjadi puncak dari berbagai inovasi yang dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya.
Comments
Post a Comment